Prodi S3 KPI UINSU Tambah Dua Guru Besar, Usung Etika Politik Islam dan Adaptasi Digital Politik Islam

MEDAN – Program Studi S3 Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sumatera Utara kembali menegaskan kontribusinya dalam pengembangan keilmuan Komunikasi Politik Islam melalui kiprah dua guru besarnya, Prof. Dr. H. Anang Anas Azhar, MA dan Prof. Dr. H. Hasrat Efendi Samosir, MA.

Dua dosen tetap Prodi S3 KPI ini dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam sidang senat UIN Sumatera Utara yang digelar, Selasa 22 April 2026. Keduanya mencapai puncak akademik sebagai guru besar, sekaligus menghadirkan gagasan strategis yang relevan dengan dinamika komunikasi politik kontemporer, khususnya terkait etika politik dan transformasi digital.

Prof. Anang Anas Azhar dikenal sebagai sosok akademisi yang memiliki latar belakang kuat dalam dunia jurnalistik, sehingga dijuluki sebagai “Profesor Berita”. Dalam perjalanan intelektualnya, ia menempuh apa yang disebut sebagai jalan dalam memperjuangkan etika politik di tengah realitas politik yang semakin pragmatis.

Pemikirannya menekankan pentingnya mengembalikan politik pada nilai-nilai moral, integritas, dan tanggung jawab ublic. Ia melihat bahwa praktik komunikasi politik saat ini kerap terjebak dalam manipulasi informasi, pencitraan semu, serta kekuasaan.

Melalui pendekatan keilmuan komunikasi, Prof. Anang menempatkan etika sebagai fondasi utama dalam membangun demokrasi yang sehat. Gagasan ini menjadi penting di tengah arus disrupsi informasi yang kerap mengaburkan batas antara fakta dan opini di ruang publik.

Sementara itu, Prof. Hasrat Efendi Samosir menyoroti perubahan lanskap komunikasi politik akibat perkembangan teknologi digital. Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar, ia menegaskan bahwa partai politik harus bertransformasi agar tetap relevan dalam sistem demokrasi modern.

Menurutnya, era digital telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi, berpartisipasi, dan menilai kinerja politik. Oleh karena itu, partai politik tidak cukup hanya berfungsi sebagai institusi formal, tetapi harus mampu menjadi ubli komunikasi yang transparan, dan inovatif.

“Di era digital dan demokrasi terbuka, partai politik dituntut lebih transparan, peka terhadap aspirasi publik, serta inovatif dalam membangun komunikasi politik,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa masyarakat saat ini semakin rasional dan kritis, sehingga pendekatan komunikasi politik yang konvensional tidak lagi efektif. Adaptasi terhadap media digital menjadi keharusan, bukan pilihan.

Terpisah, Ketua Prodi S3 KPI, Dr. H. Ahmad Sampurna, MA, menambahkan pemikiran kedua guru besar ini menunjukkan arah pengembangan keilmuan Komunikasi dan Penyiaran Islam yang tidak hanya normatif, tetapi juga kontekstual terhadap tantangan zaman.

“Jika Prof. Anang Anas Azhar menekankan dimensi etik dan moral komunikasi politik, maka Prof. Hasrat Efendi Samosir menyoroti aspek transformasi digital dan strategi komunikasi politik modern,” kata Sampurna.

Sedangkan Sekretaris Prodi S3 KPI, Dr. H. Fakhrur Rozi, S.Sos, M.I,Kom, menambahkan, dengan bertambahnya Guru Besar di Prodi S3 KPI menjadi representasi kuat dari integrasi antara nilai-nilai keislaman, teori komunikasi, dan realitas sosial-politik kontemporer.

“Sekaligus memperkuat posisi Prodi S3 KPI FDK UINSU. Kolaborasi kedua sahabat ini diharapkan meneguhkan prodi kami sebagai salah satu pusat pengembangan kajian komunikasi Islam yang responsif terhadap perubahan global,” pungkas Dr. Rozi.(frz/analisamedan)