BOGOR – Sekretaris Program Studi S3 Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara Medan, Dr. Fakhrur Rozi, S.Sos, M.I.Kom, menghadiri deklarasi dan simposium nasional Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi (ADPIKI) di IPB International Convention Center, Bogor, Kamis 7 Mei 2026.
“Langkah ini menjadi bagian upaya S3 KPI memperkuat jaringan kolaborasi keilmuan dan sinergi riset inovasi. Sesuai arahan jajaran pimpinan FDK UINSU Medan, prodi harus terus berkembang dengan membangun jejaring akademik yang berkualitas,” kata Dr. Rozi, yang juga Anggota ADPIKI, Jumat (8/5/2026).
Dalam deklarasi dan simposium Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) menegaskan pentingnya penguatan peran ilmu komunikasi dalam mendukung sinergi riset, hilirisasi inovasi, serta pembangunan nasional di tengah transformasi digital.

“Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, SP., M.Si yang menjadi keynote speaker membicarakan peran dan tanggung jawab Ilmu Komunikasi melalui sinergi dan hilirisasi riset. Paparan beliau sangat penting bagi rumpun keilmuan komunikasi. Salah satunya adalah aspek etika komunikasi dan kredibilitas komunikasi yang menjadi ruh dari Komunikasi dan Penyiaran Islam karena memiliki enam prinsip/etika qaulan,” terang Rozi.
Sebelumnya, dalam simposium itu Arif Satria menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental lanskap komunikasi publik. Media arus utama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi karena setiap individu kini dapat menjadi produsen sekaligus penyebar berita melalui platform digital.
Menurutnya, pola komunikasi saat ini semakin bergantung pada algoritma media sosial yang menentukan arus informasi, preferensi publik, hingga pembentukan persepsi masyarakat.
“Algoritma memiliki pengaruh besar dalam menentukan apa yang dilihat dan dipercaya publik. Akibatnya, komunikasi sering kali tidak lagi berorientasi pada substansi, tetapi mengejar viralitas,” ujar Arif Satria.
Menurut Arif, penguatan silaturahmi dan jejaring sosial yang sehat menjadi penting untuk menjaga kualitas komunikasi publik dan memperkuat kepercayaan masyarakat. “Komunikasi pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana membangun relasi sosial dan menghadirkan kredibilitas yang dipercaya masyarakat,” katanya.
Sementara, Ketua Umum ADPIKI Dr. Heri Budianto, M.Si. mengatakan pembentukan ADPIKI untuk memperkuat posisi dosen dan peneliti ilmu komunikasi sebagai komunitas epistemik yang solid dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi, riset, dan inovasi nasional.

“ADPIKI hadir untuk membangun representasi kolektif dosen dan peneliti ilmu komunikasi, memperkuat legitimasi profesi, serta mengintegrasikan jejaring riset nasional guna meningkatkan daya saing publikasi, inovasi, dan hilirisasi keilmuan komunikasi,” katanya.
Keberadaan ADPIKI diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas pengajaran dan penelitian ilmu komunikasi yang inovatif, kolaboratif, dan relevan dengan perkembangan teknologi digital dan AI. Selain itu, ADPIKI juga diharapkan menjadi ruang sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan praktisi komunikasi dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa.
“Kami ingin ADPIKI menjadi wadah yang mampu menyatukan gagasan, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata ilmu komunikasi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia internasional,” ujar Heri.
Selain simposium nasional, agenda kegiatan dilanjutkan dengan deklarasi resmi berdirinya ADPIKI dan pelantikan pengurus pusat periode 2026–203. Berikutnya Rapat Kerja Nasional pertama untuk penguatan jejaring dosen dan peneliti ilmu komunikasi di Indonesia.(fr/adpiki)
